Semua orang memiliki sifat. Sifat – menurut pengertianku – adalah hal yang melekat erat dalam diri seseorang. Kata mbok Atun, sifat seseorang sudah ada sejak dia dilahirkan, dan amat susah diubah. Sifat yang ada dalam diri seseorang amat berperan melukiskan image dirinya dari kacamata orang lain. Dan itu semua terekspos dengan jelas lewat sikap kita sehari-hari.
Begitu juga dengan individu yang satu ini. Dia selalu berada di dapur – tempat Mama dan mbok Atun menghabiskan banyak waktu. Tubuhnya kekar, berwarna hijau muda. Dia cekatan membantu Mama memasak, sepintas kulihat dia amat disayang Mama dan menjadi tangan kanan Mama yang handal dalam menyiapkan aneka masakan, Berkat bantuannya, mama bisa menciptakan masakan yang lezat-lezat.
Aku sendiri kurang menyukai kepribadiannya. Mungkin dia memang pekerja yang gesit dan cekatan. Mama sering memuji hasil kerjanya itu, dia selalu dikagumi oleh teman-teman Mama yang baru saja mencicipi hasil karya Mama, baik itu masakan, kue atau minuman dari buah segar.
Yang membuat aku tidak menyukainya adalah sifatnya yang kasar dan sok judes. Suatu hari, aku melihat dia sedang berdiri di lantai. Hari itu Mama akan kedatangan teman-temannya dalam acara arisan. Berbagai bahan makanan – sayuran, daging, ikan dan unggas ada di meja dapur, sehingga rekanku ini terpaksa berdiri di lantai. Aku mendekatinya, bermaksud menyapanya saja. Kuendus tubuhnya dengan lembut, dia diam saja ! Kupandangi tubuhnya, sebagian besar terbuat dari gelas kaca. Mama datang, membuka topi rekanku dan memasukkan beberapa bahan bumbu kedalamnya, menutup kembali topinya. Aku kembali mendekatinya, aku ingin mengucapkan selamat bekerja padanya, aku ingin mengucapkan terima kasih sudah mau membantu Mama memasak di dapur, semua kulakukan dengan manis. Kuletakkan tangan depanku ditubuh bagian depannya, tiba-tiba dia menghardikku : “ Wuuuuuunnnng …. Srrrrtttt …… srrrtttt ….. “ suaranya sama sekali tidak ramah dan keras sekali. Oh-oh!! Jantungku hampir terdesak keluar dari kerongkonganku. Aku terlompat kaget. Aku merasa amat sangat marah terhadap sikap judesnya ini. Maka segera aku menghampiri dia dan kubalas hardikannya dengan gonggonganku yang juga keras. Memangnya cuma dia yang bisa menghardik, aku juga bisa menggonggong tau! Jadilah kami ramai berbantahan. Dia tetap meneruskan caci makinya padaku, dan aku sesekali membalas menggonggonginya dengan semangat 45! Belum tau dia ….. aku Moully, anjing kecil yang punya nyali !!
“Moully ….. berisik sekali! Ayo, sana main di luar!“ Ah, Mama! Biarkanlah aku mengajari dia sedikit keramahan. Dia harus belajar sopan dan lembut, kan?
“Nathan! Tolong ajak Moully keluar! Mama pusing denger suaranya, nanti dia kesetrum, lho!“ Ohlala….! Apa itu kesetrum? Ah, siapa takut? Tetapi Nathan sudah tiba di dapur, dia segera menggendongku, menciumi moncongku dan menenangkan aku yang meronta-ronta mencoba lepas dari gendongannya.
“Dah, kita main di luar aja ….. nanti kamu kesetrum lho, jangan main deket blender …. Tajem tau ?“ Aku memandangi matanya, apa itu blender? Jadi temanku yang angkuh itu namanya blender, tho? Jelek sekali ya kedengerannya? Sejelek sifatnya – dasar penghardik !