Si Penghardik yang Cekatan

Semua orang memiliki sifat. Sifat – menurut pengertianku – adalah hal yang melekat erat dalam diri seseorang.  Kata mbok Atun, sifat seseorang sudah ada sejak dia dilahirkan, dan amat susah diubah. Sifat yang ada dalam diri seseorang amat berperan melukiskan image dirinya dari kacamata orang lain. Dan itu semua terekspos dengan jelas lewat sikap kita sehari-hari.

Begitu juga dengan individu yang satu ini. Dia selalu berada di dapur – tempat Mama dan mbok Atun menghabiskan banyak waktu.  Tubuhnya kekar, berwarna hijau muda. Dia cekatan membantu Mama memasak, sepintas kulihat dia amat disayang Mama dan menjadi tangan kanan Mama yang handal dalam menyiapkan aneka masakan, Berkat bantuannya, mama bisa menciptakan masakan yang lezat-lezat.

Aku sendiri kurang menyukai kepribadiannya. Mungkin dia memang pekerja yang gesit dan cekatan.  Mama sering memuji hasil kerjanya itu, dia selalu dikagumi oleh teman-teman Mama yang baru saja mencicipi hasil karya Mama, baik itu masakan, kue atau minuman dari buah segar.

Yang membuat aku tidak menyukainya adalah sifatnya yang kasar dan sok judes.  Suatu hari, aku melihat dia sedang berdiri di lantai. Hari itu Mama akan kedatangan teman-temannya dalam acara arisan. Berbagai bahan makanan – sayuran, daging, ikan dan unggas ada di meja dapur, sehingga rekanku ini terpaksa berdiri di lantai.  Aku mendekatinya, bermaksud menyapanya saja. Kuendus tubuhnya dengan lembut, dia diam saja !  Kupandangi tubuhnya, sebagian besar terbuat dari gelas kaca. Mama datang, membuka topi rekanku dan memasukkan beberapa bahan bumbu kedalamnya, menutup kembali topinya. Aku kembali mendekatinya, aku ingin mengucapkan selamat bekerja padanya, aku ingin mengucapkan terima kasih sudah mau membantu Mama memasak di dapur, semua kulakukan dengan manis. Kuletakkan tangan depanku ditubuh bagian depannya, tiba-tiba dia menghardikku : “ Wuuuuuunnnng …. Srrrrtttt …… srrrtttt ….. “  suaranya sama sekali tidak ramah dan keras sekali. Oh-oh!! Jantungku hampir terdesak keluar dari kerongkonganku.  Aku terlompat kaget. Aku merasa amat sangat marah terhadap sikap judesnya ini.  Maka segera aku menghampiri dia dan kubalas hardikannya dengan gonggonganku yang juga keras. Memangnya cuma dia yang bisa menghardik, aku juga bisa menggonggong tau! Jadilah kami ramai berbantahan. Dia tetap meneruskan caci makinya padaku, dan aku sesekali membalas menggonggonginya dengan semangat 45! Belum tau dia ….. aku Moully, anjing kecil yang punya nyali !!

“Moully ….. berisik sekali! Ayo, sana main di luar!“ Ah, Mama! Biarkanlah aku mengajari dia sedikit keramahan.  Dia harus belajar sopan dan lembut, kan?

“Nathan! Tolong ajak Moully keluar! Mama pusing denger suaranya, nanti dia kesetrum, lho!“  Ohlala….! Apa itu kesetrum?  Ah, siapa takut?  Tetapi Nathan sudah tiba di dapur, dia segera menggendongku, menciumi moncongku dan menenangkan aku yang meronta-ronta mencoba lepas dari gendongannya.

“Dah, kita main di luar aja ….. nanti kamu kesetrum lho, jangan main deket blender …. Tajem tau ?“  Aku memandangi matanya, apa itu blender?  Jadi temanku yang angkuh itu namanya blender, tho?  Jelek sekali ya kedengerannya? Sejelek sifatnya – dasar penghardik !

Menjaga yang Kusukai

Aku yakin, Anda semua tentu punya benda yang paling anda sukai melebihi benda-benda lainnya. Mungkin jumlahnya lebih dari satu, karena usia Anda pastilah jauh diatasku. Well, aku cuma punya satu benda saja, dan itu adalah sesuatu yang amat berharga – diluar dari “suka” ku padanya saja.

Benda yang aku maksudkan ini adalah benda yang dapat menghadirkan perasaan luar biasa dalam hatiku. Karena dia dapat memenuhi hampir semua kebutuhan dalam kehidupanku yang masih seumur jagung ini.  Yang aku maksudkan adalah, dia (benda ini) bisa memenuhi kebutuhanku akan suka pada sesuatu yang cantik (secara lahiriah) dan ini amat wajar, kan? dia juga bisa memenuhi kebutuhanku akan rasa nyaman, dia mengerti akan kebutuhanku akan teman (dia tidak pernah menolak kuseret kemanapun), dan yang penting lagi adalah dia merupakan milikku yang mutlak. Diberikan mama khusus untuk aku, kemarin pagi. Dan hingga hari ini (sudah 26 jam) dia masih setia bersamaku, karena itu aku menganggapnya sebagai yang paling kusukai didalam kehidupanku saat itu.

Kalaulah ada satu hal yang membuatku agak merasa terganggu, itu karena dia lebih tinggi beberapa centimeter dariku dan agak kurang lincah bergerak, karena tubuhnya terlalu gemuk.  Selebihnya, aku amat menyukai harum tubuhnya dan kelegitannya. Disiang hari dia kuajak bermain di taman belakang, kami bergulingan diatas rumput tebal, kudorong dia dengan kaki depanku dan diapun menggelinding tanpa bisa berhenti karena kegembulan tubuhnya pasti membuatnya kewalahan menahan, kuseret dia menuju kolam ikan, dia nampak menikmati sekali suasana didekat kolam yang tenang dan teduh. Kami berdua tidur-tiduran santai sambil mendengarkan gemericik air yang mengalir dari puncak batu diatas kolam dan bekelok-kelok turun ke dasar kolam, melewati rumpun melati air lalu berkecipak jatuh ke teritisan batu dibawahnya.

Teman baruku ini juga amat baik hati, kadang dia membiarkan aku dengan gemas menggigiti tubuhnya. Dia tidak mengeluh dan tetap tidak mengeluh ketika bekas gigitanku meninggalkan luka-luka pada tubuhnya, lubang-lubang di permukaan kulitnya sebenarnya membuat dia kehilangan kecantikannya, tetapi dia tidak protes. Tahu kan Anda sekarang, mengapa aku begitu menganggap dia berharga?  Karena dia manis sekali.

Sore itu, aku sedang menyeret teman baruku menuju teras belakang. Matahari sudah mulai turun, dan taman belakang ini sebentar lagi akan gelap.  Ketika malam tiba, taman akan didatangi mahluk-mahluk jelek yang tidak sopan. Diantaranya Oom Tikus dan Tante Kodok.  Aku kawatir Oom Tikus akan melukai temanku ini dan membawanya kabur ke sarangnya yang kotor, dan Tante Kodok yang jorok itu akan mengencinginya.  Karena itu, dengan susah payah aku menggeretnya menuju ke dekat locker-ku.  Itulah tempat yang paling aman baginya.

“Yaaaa ampuuun! Moully…..! Kamu apakan saja dia? Sampai jadi dekil begini?“  Itu suara Mama yang memekik kaget melihat rupa temanku. Ah, Mama! Mengagetkan aku saja! Aku juga tau dia kotor, besok akan kumandikan dia di kolam, malam ini biarlah dia tidur di lockerku dulu, aku kawatir dia akan masuk angin kalau kumandikan sore-sore begini.  Kukibaskan ekorku sambil berdiri diatas kedua kaki belakangku, kaki depanku menggapai lutut Mama. Begitulah caraku mengajuk hatinya.

“Ini, ambil kue bapel ini saja….“ Mama menyodorkan kue bapel berbau harum itu kedepan moncongku. Aku menerimanya dengan sukacita, kue bapel memang kesukaanku. Tetapi kata-kata mama selanjutnya membuatku menunda mengunyah kue lezat itu, ohlala… !! “Mbok…. ! Tolong buang kue mangkok itu mbok,….nanti dirubung semut!” Mama menunjuk kepada sahabatku merangkap benda kesukaanku yang terlihat kuyu, dekil dan tergeletak tak berdaya ….tiba-tiba aku merasa harus menyelamatkannya, dan aku segera berlari mendekati dia, menggeretnya dengan moncong kecilku dan terseok-seok kami berjalan menuju locker. “Moully ….. ayo buang kue mangkok itu!  Nakal …..!! Itu sudah kotor!!“  Mama kembali mendekati kami dan berusaha mengambil temanku. Oh tidak! Mama, jangan ambil dia dariku, dia satu-satunya teman yang kusukai….. Tolong, jangan pisahkan kami!  Tetapi terlambat, tangan Mama sudah merenggutnya dari moncongku dan kemudian melemparkannya ke dalam keranjang sampah yang sedang dibawa Mbok Atun menuju tempat kami berdiri.  Yaaaah… telaaat deh! Maafkan aku ya teman, aku tidak bisa menyelamatkanmu. Selamat berpisah temanku, terima kasih sudah menemaniku bermain, meski kau cuma sebuah kue mangkok besar berwarna pink (yang kini sudah menjadi cokelat susu alias dekil), aku tidak akan pernah melupakan wangi pandanmu dan rasa gurih tubuhmu itu. Meski singkat, pertemanan kita sungguh membekas dalam-dalam di benakku, engkaulah temanku yang pertama, yang mengajarkan aku tentang kebersamaan dan berempati, engkau memang Kue Mangkok yang manis.

Membantu Mama Berkebun

Tahukah anda mana tempat favorit mama didalam rumah luas yang cantik ini? Ada dua.  Yang pertama adalah dapur keluarga yang hangat – feminine dan lengkap, dan yang kedua adalah teras belakang yang memiliki taman bunga yang asri, berisi koleksi tanaman mama yang cantik-cantik.

Diteras belakang ini mama biasa membaca majalah, novel, buku-buku masakan dan santai mendengarkan musik sambil minum segelas jus buah.  Di taman ini terdapat aneka ragam koleksi tanaman mama yang cantik dan tumbuh sehat.  Yang paling disukai mama adalah gerombolan bunga disudut kanan.  Disana ada berbagai macam jenis tanaman melati yang dikoleksinya dari berbagai daerah yang pernah dikunjunginya, diantaranya adalah melati Madagaskar. Ada juga yang merupakan oleh-oleh teman-temannya dari luar negeri.  Salah satu melati kesukaannya adalah Melati Belanda yang cantik sekali dan berbau harum lembut.   Melati ini ditanam didekat jendela ruang baca yang menyatu dengan teras belakang.  Pohonnya dirambatkan pada sebuah pergola. Dibawah pohon inilah aku biasanya tidur siang, karena rimbun dan teduh sekali.

Ada waktu dimana mama akan memangkas semua tanaman ini dan memindahkan beberapa ranting kedalam vas plastik berwarna hitam berisi tanah kompos.  Kata Phine itu namanya stek batang, dan hanya bisa dilakukan pada batang tanaman yang sudah dewasa dan keras.  Setelah beberapa waktu, dari batang-batang itu akan tumbuh tunas baru, semakin hari semakin banyak hingga saatnya mama akan menanamnya di tanah, jadilah itu rumpun tanaman baru.

Suatu ketika, mama demikian sibuk dengan pekerjaan kantornya, sehingga sudah sekian lamanya dia tidak sempat lagi mengolah kebunnya. Bunga-bunga dibiarkan tumbuh – mekar – layu dan berguguran tanpa sempat di tengoknya. Beberapa stek batang kulihat sudah gondrong tunas daunnya, tetapi masih belum dipindahkan mama ke tanah, padahal aku tahu ada sepetak tanah yang cocok untuk ditanami rumpun melati menur ini, itu – tanah yang disudut kiri didekat kolam ikan.  Tidak ada salahnya membantu mama. Dia pasti akan senang sekali kalau mengetahui tanaman ini sudah dipindahkan. Aku yakin aku sendiri juga bisa melakukannya, bukankah sudah sering aku melihat cara mama berkebun dan aku juga punya banyak waktu luang untuk itu.  Okay, aku akan kerjakan mulai besok siang!  Sekarang, lebih baik aku memilih dahulu batang-batang stek yang akan kupindahkan.  Seperti yang biasa dikerjakan mama.

Begini cara mama berkebun : Pertama, memilih pohon yang akan dipindahkan. Kedua, memindahkannya dari pot semai dan menaruhnya dalam keranjang.  Ketiga, menggali lubang di tanah yang baru, memasukkan kompos kedalamnya. Keempat menempatkan batang stek kedalam lubang dan menimbunnya dengan kompos lagi sebelum akhirnya diuruk tanah galian.  Yap! Begitulah tahapan yang benar dari cara-cara berkebun ala mama.

Aku sudah memilih pohon-pohon yang akan kupindahkan, ada tiga buah!  Dengan moncongku kutarik dia keluar dari vas hitam plastik tempat dia disemai. Aahh… agak sulit juga, karena akarnya sudah cukup banyak.  Tarik perlahan….. belum bisa! Lagi,…. sedikit lebih kuat,…. masih belum bisa! Dengan satu kaki kutekan vas dan moncongku menarik sekuatnya …. Pluuuk … hoplaa …. berhasil!  Tanahnya berhamburan keluar, kuseret dia menuju kolam ikan dan kuletakkan di bawah pohon.  Kini tahap kedua, menggali tanah!  Kugunakan kedua kaki depanku menggali dengan penuh semangat.  Agak keras memang, dan jari-jariku mulai terasa pegal.  Satu jam berlalu, punggungku mulai kaku karena letih.  Tanahnya ternyata amat keras, padat dan kering.  Aku capai sekali.  Sejenak aku berhenti, merebahkan diriku disisi kolam, aku butuh istirahat dulu sebentar….. dan akupun tertidur pulas.

“Moully ….. dimana kamu? “ Nah, itu suara Nathan! Dia sudah pulang sekolah rupanya.  Aku melompat girang dan berlari menyongsongnya.

“Ya ampuuuuun kamu kotor sekali!  Kesini…! Aku bersihkan, kamu mandi aja ya?  Kamu sudah kecut!“ Belum sempat aku menjawab dia sudah membawaku ke kamar mandi, memasukkan aku ke bathtub dan menyalakan kran air.  Selanjutnya akupun dimandikan dengan shampoo dan dikeringkan dengan hair dryer, nikmat sekali rasanya.  Selesai mandi, dia memberiku semangkuk susu.  Sesudah itu kamipun bermain kejar bola di kebun depan, hingga tiba saat makan malam.

Dan di hari minggu pagi ……

“Ya ampuuuuun …. siapa ya yang merusak stek melatiku? Papa …. ?!!“ Kami mendengar teriakan mama dari teras belakang.  Papa bergegas ke arah suara mama diikuti Phine dan Nathan, juga mbok Atun.   Mereka semua mengelilingi serakan tanah kompos, vas plastik hitam dan beberapa batang stek melati menur yang sudah mengering.  Ohlala …. !! Aku lupa pada proyekku!  Bukankah aku seharusnya menanam stek-stek itu di dekat kolam?  Aduh, bagaimana ini? Mereka semua sudah menjadi kering …. aku lupa meneruskan kegiatan itu! Mama menuduh papa yang mengacak-acak tanaman steknya, sementara papa yang dituduh juga berkali-kali menyangkalnya. Akupun diam-diam ngeloyor ke ruang tengah.  Ah ….., bagaimana aku menjelaskan kepada mama ya?  Aku cuma ingin membantunya berkebun, itu saja, tapi sepertinya malah merusak semua steknya! Maafkan aku, mama….. bukan papa yang melakukan itu, tapi aku ….. Tapi untuk mengatakannya aku jelas tidak berani, sebab aku melihat mama sedang benar-benar marah …..  Seisi rumah juga kulihat memilih untuk menjauh dari mama.  Dari balik pintu aku melihat mama sedang membersihkan serpihan kompos dan membuang batang-batang stek yang kering kedalam tempat sampah.  Wajahnya terlihat kesal, tidak ada senyum yang amat kusukai itu …… Hmmm! Aku benar-benar sudah membuatnya kecewa, padahal aku begitu ingin membantunya, mengapa aku sampai lupa menyelesaikan pekerjaan itu ya?  Aku benar-benar menyesal!

Pelajaran Pertama

Setiap hari ada saja hal baru yang kupelajari.  Kalau tidak untuk pengetahuanku, maka itu menjadi sesuatu hal yang pantas kupelajari untuk dapat diterima di keluarga baruku.  Salah satunya adalah belajar kebersihan.

Pagi tadi, mbok Atun memukul pantatku dengan kemoceng dan menghardikku dengan kata-kata yang kasar.  Aku tidak tahu apa salahku, tetapi aku dapat melihat matanya yang berkilat dengan kemarahan dan bibirnya yang maju beberapa centimeter. Belum puas dia melakukan itu, sambil masih mengomel dia mengejarku hingga ke ruang depan dan berusaha memukulku lagi dengan mengacung-acungkan kemoceng. Pantatku terasa perih sekali.  Aku melirik kekanan dan kekiri, mencari tempat persembunyian paling aman.  Tetapi di ruang tamu ini tidak ada sudut yang bisa kumasuki untuk sekedar menyelamatkan tubuh – terutama pantatku dari serangan kemocengnya, sementara mbok Atun semakin mendekat. Tidak ada pilihan lain, dengan sekuat tenaga aku berlari ke sudut sebelah kanan, aku rasa bersembunyi dibalik vas besar itulah yang paling aman!  Huup……aku berhasil menyelipkan tubuh gemukku dibalik vas.  Mbok Atun menyodokkan kemocengnya keperutku, akupun berusaha memutar tubuhku dan……praaaaaannnng! Vas itu terdorong oleh punggungku dan terguling kedepan, terbelah jadi tiga!  Oh..la…la…!  Aku melihat mbok Atun menutup mulutnya dengan telapak tangan gendutnya, matanya membelalak dan tubuhnya menegang.  Dia menoleh kekanan dan kekiri dengan kepanikan tinggi.

Sedetik kemudian mama sudah masuk ke ruangan itu.  Mama terlihat sangat terkejut memandang vas yang sudah terserak di lantai dan tubuhku yang masih meringkuk di sudut, dibelakang rak bekas vas itu berdiri.  Sejenak kemudian mama menoleh memandang mbok Atun yang gemetaran berdiri disampingnya, di tangannya masih tergenggam kemoceng pemukul pantatku.

“ Aduuuuuh! Vas antikku…!!! Mbok ….ada apa ini?!” yang ditanya gelagepan.  Mbok Atun menunjuk aku yang masih terheran-heran memandangi mereka.  Nathan dan Phine juga sudah berada di ruangan itu sekarang, kehadiran mereka membuatku lega, setidaknya aku memiliki pelindung.  Dengan gembira aku menyongsong Nathan, mengibaskan ekorku didekat kakinya.

“Itu, Bu…..! Moully pagi-pagi sudah merepotkan saya!“ Kudengar mbok Atun terbata-bata berbicara sambil menudingku.  “Merepotkan bagaimana?!!“  Oh-ho, aku belum pernah mendengar intonasi suara mama setinggi itu, mama biasanya berbicara dengan nada lembut.

“Dia berak dan kencing didalam bu….“  katanya lagi.  “Terus, apa hubungannya dengan vas yang jadi hancur begini?!! “  ketika itulah kulihat mata mama mengarah kepada kemoceng di tangan mbok Atun. “Mbok memukul dia, ya?!!“  tukasnya dengan nada tinggi.

“Saya kan nggak pernah bilang mbok boleh memukulnya!!” Mama beralih memandangku yang sedang dalam gendongan Nathan.  “Nathan, kamu lupa menaruh Moully di luar tadi malam, ya?”  kulihat Nathan diam, mungkin memang dia lupa melakukan itu, atau sengaja tidak melakukan itu karena malam tadi hujan cukup deras dan dia kawatir aku kedinginan di teras belakang sendirian.  Aku menjulurkan kepalaku dan menjilati pipinya.  Aku hanya ingin mengatakan terima kasih atas perhatiannya.

“Mestinya kamu tahu dong, dia butuh poop dan weewee dan itu tempatnya di luar sana!“ Kulihat mata Nathan meredup, sementara Phine ikutan membelai kepalaku.  “Tapi ma, Moully kan nggak tahu hal itu, namanya juga anjing …. mestinya mbok Atun yang ngertiin dong, kenapa harus dipukul segala sih?“

“Saya kagak mukul dia, Non …. “  katanya sengit.  “Ah masak sih? Kalo nggak kenapa dong dia ngumpet dibelakang vas antik mama?“  Phine kembali mengusap kepalaku  “Dimana kamu dipukulnya, Mol? “  Aku memandang wajahnya, thank you Phine …. Kalau aja kamu bisa merasakan pantatku yang masih perih, mbok Atun tadi menggebukku berkali-kali, makanya aku lari keruang tamu.   “Ya sudah! Panggil Pak Man suruh menyingkirkan vas ini …., dan kamu Nathan inget untuk membiasakan Moully ada di luar setiap malam!“

Sore itu, aku melihat Papa, Phine dan Nathan sibuk mengerjakan sesuatu.  Dihadapan mereka ada kotak plastik besar setinggi 10 cm, mereka mengisinya dengan pasir.  Kotak itu kemudian diletakkan didekat pintu dapur.  Phine mengambil selembar tissue dan melap air pipisku dengan tissue itu, kemudian meletakkan tissur itu ke atas pasir didalam kotak.   “Moully, ini tempat kamu weewee dan poop ya, kalau kebetulan kamu berada di dalam…. “ Apa itu weewee ?  Dan apa itu poop ?  Aku menelengkan kepalaku kekiri melihat dia menunjuk ke kotak itu, “Weewee disini, ya ?“  Oh, jadi pipis itu weewee ?  Dan poop itu pasti buang air besar kan?  Ah, aku sudah mulai pintar.

Di dapur, aku mendengar percakapan mbok Atun dengan mama – tentang aku.

“Saya minta maaf tadi membuat nyonya marah“ Itu suara mbok Atun.  “ Saya menyesal membuat vas antik nyonya jadi pecah“ Kembali terdengar suara mbok Atun.   “ Bukan karena vas-nya saya marah sama mbok! Tapi karena mbok sudah menganiaya Moully!“  Hening sejenak.  “Moully juga punya rasa dan jiwa, dia ciptaan Tuhan sama seperti kita!!“  Hening lagi.  “Mbok kok nggak bisa bersikap welas asih sama binatang ya, nggak punya hati ketika memukul dia ? Berapa repotnya sih membersihkan kotoran yang dia bikin pagi tadi? Tolong, jangan ulangi itu lagi mbok, saya tidak suka !! “  kulihat mbok Atun mengangguk-angguk.

Okay, cukup sudah kekacauan yang kubuat hari ini ! Aku berjanji akan menjaga kebersihan rumah, aku akan ingat untuk weewee dan poop di tempat yang semestinya.  Maafkan aku mama, vas cantik itu terpaksa kehilangan nilainya karena sudah tidak utuh lagi.  Papa tadi berhasil merekatkan setiap pecahannya dengan lem khusus dan vas itu sekarang sudah berdiri lagi di ruang tamu. Dia kelihatan cantik tanpa cacat, tetapi aku tahu dia sudah bukan vas yang sama lagi. Aku sungguh amat menyesal, sepenuh hati aku berharap mama tahu akan hal ini.  Ini akan jadi pelajaran pertamaku, dan aku akan menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari, aku janji – mama.

Belajar Santun

Didalam kehidupan manusia, dikenal tata krama. Dan didalam bertata krama, kita belajar bersikap baik, bicara baik dan mungkin juga berhati baik (jujur), ya?

Nathan mengajariku bersalaman. Mulanya aku tidak paham mengapa aku harus menyodorkan tanganku setiap kali dia mendekat dan bertanya “Salam?”. Sebab hal itu tidak pernah ada dalam kehidupanku sebelumnya.  Tangan hanya kupergunakan untuk menggali lubang di tanah, menggapai sesuatu, menginjak binatang kecil buruanku atau menyentuh benda calon koleksiku, sekedar memastikan apakah dia akan melawanku atau tidak.

Salaman, yang kerap kulihat, dilakukan mama kepada setiap orang yang datang ke rumah kami. Bersamaan dengan itu, biasanmya mama berkata, “ Hallo ….“ atau “Hai, apa kabar?“ sambil tersenyum manis, lalu mempersilahkan mereka masuk atau duduk, begitu.

Tetapi aku kan tidak bisa melafalkan kata-kata itu? Kalau aku bisa, pastinya yang kusapa akan pingsan bukan? Dan kalau sudah begitu, salamannya juga tidak bisa dilanjutkan lagi. Dan aku juga tidak bisa tersenyum, konstruksi moncongku terlanjur dibuat kaku, dengan bentuk bibir yang pas mengikuti tulang moncong.  Dibuat tidak untuk mengkerut atau mulur, jadi aku tidak bisa menciptakan sebuah senyuman.  Yang bisa dan biasa kulakukan adalah menyeringai.  Dan kala itu kulakukan, wajahku jauh dari kesan manis, malah nampak menakutkan ….. heerrrrrr…… begitu suara yang keluar ketika aku mempraktekan seringai kemarin malam, dan hasilnya kucing tetangga lari terbirit-birit hingga aku berhasil merampas tulang ikan koleksinya.

Jadi, untuk apa Nathan menyuruhku bersalaman?   Sebuah pekerjaan yang sia-sia saja rasanya.  Tetapi itulah yang dia laukan kepadaku lagi, lagi dan lagi.  Nampaknya dia tidak pernah bosan mencoba mengajariku bersalaman.

Kemudian, dia mengubah caranya. Siang itu dia mengambil tanganku dan meletakkannya di telapak tangannya. Menggenggam dengan erat kemudian menggoyang-goyangkan sambil berkata, “Salam…..“. Jadi akupun kemudian terpaksa mengikutinya.  Beberapa kali kami melakukan itu. Malamnya, dihadapan papa dan mama dia kembali mengajakku bersalaman, dan akupun dengan senang hati melakukannya.  “Aduh, manis sekali Moully, anjing pintaaaar…..“ kata mama sambil mengusap kepalaku dan memberiku sepotong kue bapel yang amat nikmat.

Jadi, begitulah! Ketika aku berlaku santun, selalu ada saja hal-hal menyenangkan yang akan terjadi padaku.  Kemarin aku mendapatkan sebuah biskuit dari Nella, gadis manis teman sekolah Phine karena sikapku yang manis ketika diajak bersalaman. Tadi pagi, aku mendapat sepotong sosis dari tante Irna (pemilik toko Susis langganan mama) yang tertawa geli melihatku menyodorkan tangan kananku kepadanya, dan baru saja aku mendapat kroket ayam dari oma yang kebetulan berkunjung kerumah kami.  Ah, bersikap santun memang membawa berkah !

Tuan Majikanku yang Baik Hati

Kalau ada orang yang paling berjasa didalam kehidupanku, dialah majikan laki-lakiku. Tuan majikan inilah yang berjasa membawaku ke rumah indah berisi orang-orang yang penuh cinta. Dialah yang memperkenalkan padaku arti kasih sayang.

Dia lelaki tampan yang halus tutur katanya. Setidaknya itu yang selalu kudengar saat dia berbicara dengan mama, isterinya.  Dia juga amat penuh kasih terhadap anak-anaknya, kedua majikan kecilku – Phine dan Nathan. Dia juga amat sabar, terutama ketika mengajarkan Nathan mengerjakan PR Matematika dan Fisika. Papa – demikian orang seisi rumah – kecuali mbok Atun (pembantu rumah tangga) dan Mas Man (sopir mama) memanggilnya, adalah seorang suami yang amat penuh cinta terhadap isterinya, dan seorang ayah yang amat mengasihi anak-anaknya.

Ketika aku tiba di rumah mereka, papa dan mama baru saja merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 21. Didalam mobil, dalam perjalananku dari rumah breeder ke rumah mereka, aku sempat mendengar bahwa aku adalah hadiah dari papa untuk mama.  Katanya agar ketika dia sedang tidak di rumah, mama ada yang menemani dan menghibur. Tetapi jujur saja, sampai hari ini aku belum pernah menghibur mama. Tetapi sebaliknya mamalah yang selalu menghiburku.  Aku masih sering teringat ibuku, dan itu membuatku kerap kali bersedih.  Tetap karena kasih sayang mama padaku jauh lebih besar dari kasih ibuku (mungkin karena ibuku harus membagi perhatiannya dengan kelima saudaraku, sedang mama hanya memiliki aku saja), aku dengan cepat dapat melupakan kesedihanku. Mama tahu bahwa aku masih memerlukan perhatian, dibandingkan Phine dan Nathan yang sudah jauh lebih mandiri dariku tentunya.

Aku tidak paham benar apa pekerjaan papa.  Yang aku tahu, dia kerap kali bepergian untuk beberapa hari.  Dan saat di rumah, dia selalu bekerja di ruang baca.  Aku selalu melihat dia menulis sesuatu disebuah buku besar, kemudian bermain dengan alat bertombol banyak bertuliskan berbagai angka. Papa juga kerap duduk dimuka sebuah televisi kecil yang memiliki papan bertombol juga, menekan-nekan tombol itu sambil menantap ke layar televisi.  Aku tidak tahu benda apa itu, tetapi nampaknya amat penting bagi papa dan pekerjaannya. Yang biasa kulakukan adalah duduk didekat kakinya dan menggigiti apapun yang kutemukan di ruang bacanya.  Sesekali papa mengajak aku bicara, kemudian mengusap kepalaku. Dia nampaknya suka sekali kutemani.  Dan kami berdua akan berada di ruang baca hingga lebih dari setengah hari.

Di malam hari, ketika seisi rumah sudah lelap.  Papa kadang juga kembali bekerja di ruang baca, atau menonton televisi sendirian. Pada saat seperti itu, biasanya beliau membawaku kedalam pangkuannya dan membiarkan aku ikut menikmati camilan malam yang sedang dinikmatinya. Kerupuk legendar yang terasa asing di lidahku, kue kelepon yang pernah hampir membuatku mati karena ketika kutelan menyumbat kerongkonganku, pop-corn mentega yang dibuatnya sendiri di dapur dan kacang goreng bawang. Sesekali mama menyiapkan kue buatannya yang jauh lebih kusukai karena rasanya manis legit dan lezat, mama pandai membuat brownies cokelat keju, cake marmer, pudding busa,  kue bapel , pukis atau putu mayang yang agak merepotkan tetapi gurih sekali rasanya. Aku menyebutnya merepotkan, karena makanan itu berkuah dan papa memerlukan menyiapkan mangkuk agar aku bisa menyantap kue berkuah itu dengan baik. Tetapi pada kenyataannya kaki pendekkulah yang lebih sering tercelup disana sebelum akhirnya menerbalikkan mangkuk dan isinya ke lantai.  Tetapi, itulah makanan kesukaan papa, jadi itulah juga yang paling sering disiapkan mama.

Papa juga yang selalu memandikan aku. Dari acara mandi inilah aku dapat membuktikan kasih sayangnya yang utuh, karena dia melakukannya dengan penuh perhatian. Dia amat teliti dalam membersihkan bulu-buluku, liang telingaku dan bahkan memotong kuku jariku. Papa juga selalu menyempatkan membawaku berjalan-jalan di sore hari, kala beliau tidak sedang bepergian. Dari acara jalan-jalan sore itu, aku memahami betapa papa adalah warga yang banyak dikenal oleh para tetangga. Hampir setiap orang yang berpapasan pasti menyempatkan menyapa dia, kemudian mengomentari penampilanku yang bulat-pendek dan lucu. Kadang, papa juga membawaku berkendara dalam mobilnya. Ketika mengisi bensin misalnya, atau membeli rokok di warung depan kompleks perumahan kami, dan menjemput Nathan setiap ada ekskul sore hari.

Aku senang sekali dengan rutinitas kami.  Karena selain lewat hal tersebut aku mendapat banyak pengetahuan baru, aku suka sekali berada didekatnya karena saat demikian aku merasakan kasih sayangnya yang begitu tulus kepadaku. Papa menyayangiku dengan apik dan merawatku bagai keluarganya sendiri, bukan sekedar binatang peliharaan. Bukankah diantara dia melakukan semua itu dia juga bercakap-cakap denganku?  Dan papa jugalah yang memberikan nama Moully padaku.  Bagiku, itu adalah nama yang teramat sangat indah.

Benda Planet

Aku belum banyak mengenal benda, memang.  Tetapi setidaknya aku sudah memiliki benda pribadiku sejak aku pindah ke rumah baru ini, sesuatu yang hanya menjadi milikku saja.  Mama membelikan aku tulang-tulangan dari karet, itulah mainan pertamaku. Kemudian, aku mulai mengoleksi benda-benda lainnya juga, sesuatu yang kutemukan di sekitar rumah.  Kuanggap benda itu menjadi milikku, sebab aku yang menemukannya. Dan disaat itu benda-benda itu tidak sedang dimiliki siapapun.   Antara lain, aku menemukan tutup botol dari keramik berwarna biru cantik di kolong meja racik di dapur, sebotol lem O’Glue yang kutemukan dibawah sofa, segulung benang warna kuning di balik lemari, spidol besar didekat taman belakang dan sebotol hand-body mini diatas karpet diruang televisi.

Aku tidak bermaksud menyepelekan usaha mama membelikan mainan tulang-tulangan untukku, tetapi jujur saja benda-benda penemuanku terasa lebih enak untuk kubuat mainan, enak untuk digigiti dan unik bentuknya.  Benda-benda itu pengisi waktuku yang amat kusukai.  Di siang hari, ketika penghuni rumah bepergian, aku bisa asyik menggigitinya dibawah meja, di kebun atau didekat tempat tidurku.

Suatu hari, aku melihat mama sedang duduk diatas karpet dimuka televisi.  Dia sedang mengecat kuku jari kakinya. Aku berjalan berkeliling di dekatnya, sebuah benda unik menarik perhatianku.  Benda itu berbentuk segi empat, dari chrome metal dan memiliki tombol-tombol dibagian depannya.  Aku pernah melihat Nathan menggunakan benda semacam itu, tetapi yang ini jauh lebih kecil dan memiliki layar kecil seperti televisi.  Aku mendekatinya, mengendus-endus didepannya.  Dengan salah satu tangan depanku aku bergerak menyentuhnya, kemudian moncongku berusaha mengangkatnya, kelihatannya benda ini asyik sekali untuk bermain.  Tetapi tiba-tiba dia memekik …… tilulit tilulitttt … tilulit.. tillulit …Oh-oh! hampir saja copot jantungku.  Suara deringnya membuat aku terlonjak dan terlempar kebelakang karena kaget dan tubuhku menabrak sofa. Mama tertawa terpingkal-pingkal melihatku.   Dia mengambil benda itu dan mendekatkan ke telinganya.  Ajaib sekali.  Benda itu membuat mama terlihat amat gembira.  Aku melihat mama tertawa-tawa, berbicara dengan riang dan kadang diam seolah menyimak sesuatu dengan serius.  Padahal, aku tidak mendengar suara apapun, jadi mama sebenarnya kenapa ya?  Saat benda itu diletakan, akupun pelan-pelan menghampirinya. Aku ingin tahu siapa yang bersembunyi didalam kotak itu.  Tidak ada siapa-siapa kok, lalu dengan siapa ya tadi mama berbicara?   Tinnng-tiiing….. tunngtung , tiingting … tunnngtuuunng Kembali aku terlonjak kaget!  Sekarang layar kacanya menyala!  Oh-oh, pasti dia tidak suka aku mendekatinya, kelihatannya dia marah, karena suaranya lain dengan yang tadi. Kembali aku melihat mama meraih benda itu dan mendekatkan  ke telinganya.  Kemudian lagi-lagi dia seolah sedang berbicara dengan seseorang, tetapi siapa ya?  Apa sih sebenarnya benda itu?  Seingatku semua koleksi benda-bendaku tidak ada yang bisa berbicara kepadaku.   Jujur saja, aku sebenarnya jadi ingin sekali memiliki benda itu, tetapi aku juga takut dengan perangai benda itu, dia suka membentakku dengan suaranya yang keras dan mengejutkan.  Dia – benda planet yang sama sekali tidak ramah, begitu aku menamai-nya.

Tetapi pandanganku berubah, ketika suatu hari aku menemukan benda planet lain yang ramah dan baik hati. Berlainan dengan sebelumnya, benda ini pandai bernyanyi.  Ketika kusentuh, layarnya menyala dan kemudian diapun bernyanyi.  Aku tidak paham judul lagunya namun kerap kali mendengarnya di televisi dan nadanya indah sekali, aku suka itu.  Benda itu milik Phine, dia berwarna memakai baju warna pink dari bahan karet.  Suatu ketika, Phine meninggalkannya di sofa teras belakang dan akupun segera membawanya ke lockerku, benda ramah itupun kujadikan koleksiku.

Malam itu mereka kelihatannya sedang sibuk.  Phine heboh  mengaduk-aduk bantal-bantal sofa di ruang televisi.   “ Nathan, lihat hp-ku?“  Yang ditanya menggeleng dan tetap menatap ke layar televisi yang sedang menayangkan seri favoritnya – Avatar.  Phine beralih ke ruang baca dan mengaduk-aduk keranjang majalah disana.  “Mama liat hp-ku?“  Apa sih yang sedang dicarinya? Apa itu hp?

“Di call aja, entar juga ketauan ada dimana …“ Begitu Nathan menimpali gangguan kakaknya yang kembali hilir mudik di ruang televisi.  Dia segera menyambar benda planet milik mama dan sibuk menekan-nekan tombolnya.  Beberapa kali dia memutari ruangan, masuk keluar dengan bingung.  “ Ya muter-muter dong, kalo disini terus juga kagak ketemu …“  kembali Nathan berkomentar.  Phine-pun keluar ruangan menuju ke ruang makan, ruang baca dan kemudian ke teras belakang.

“ Cintaku bukanlah cinta biasaaaaa …… “ Nah, itu benda planet memanggilku, akupun berlari ke ruang lockerku… diikuti oleh Phine.  Kenapa Phine ikut di belakangku, ya?

Dia menemukan benda planet milikku itu!  Ketika berhasil memegangnya kembali diapun berteriak histeris, demi melihat baju karet pink-nya yang penuh dengan tanda bekas gigitan gigiku !

Ekspresi Kasih Sayang?

Ditempat asalku sebelumnya, aku hanya boleh bermain di halaman belakang saja. Tepatnya, aku dan saudara-saudaraku ditempatkan didalam kotak besar terbuat dari papan peti kemas beralaskan koran bekas. Kotak besar itu ditempatkan di kebun belakang, dibawah teras. Aku dan saudaraku sehari-hari juga dibiarkan berkeliaran bebas di kebun belakang yang luas.  Disana juga ada beberapa paman dan bibi dari ras berbeda, termasuk ayah dan ibuku.

Majikan lamaku jarang ada di rumah. Karena itu, aku sangat jarang mendapatkan perhatian dari mereka. Sehari-hari aku hanya bertemu dengan para petugas breeder, dan mereka jauh dari sikap ramah. Berbeda dengan keluargaku yang baru ini, selalu saja ada salah satu dari mereka yang akan berada dirumah dan mereka sangat memperhatikan aku. Kalaupun mereka pergi bersama-sama, setidaknya selalu ada semangkuk susu yang tersedia untukku. Itu amat menyenangkan dan sangat kubutuhkan kala aku merasa lapar.

Setelah beberapa hari tinggal bersama dengan keluarga baruku ini, aku menemukan suatu hal unik yang sering mereka lakukan dan belum pernah kusaksikan. Mereka memiliki kebiasaan mendekatkan wajah satu sama lain pada waktu-waktu tertentu. Sama seperti saat Nathan (majikan kecilku) menempelkan wajahnya ke moncongku pada pagi hari pertamaku. Aku tidak pernah mengalaminya sebelumnya. Hanya ibuku yang selalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, ketika ia  sedang membersihkan wajahku dengan lidahnya.

Suatu pagi, Nyonya majikan mengangkatku dan mendekatkan wajahku ke pipinya.  Aku mencium harum yang nyaman dari pori-pori kulitnya yang halus.  Kalau tidak salah, aku mendengar kedua majikan kecilku memanggil wanita ini dengan sebutan “mama”. Itu artinya ibu, bukan?  Jadi, wanita ini adalah ibu dari 2 majikan kecilku.  Tetapi tidak seperti ibuku, dia berbau harum dan dari bibirnya sering keluar suara halus dengan intonasi yang enak didengar, meski aku belum banyak mengerti apa yang dia ucapkan.  Sesuatu yang belum pernah kudengar, tetapi aku sungguh menyukai iramanya.

Sejenak kemudian, dia mendekapkan aku ke dadanya dan berjalan menuju ruang dalam.  Dia duduk di sofa dan meletakkan aku di pangkuannya.  Sungguh nyaman bergelung diatas pangkuannya, hangat – empuk dan ada rasa aman yang tiba-tiba hadir dihatiku.  Kain roknya halus dan berbau harum lembut, sesuatu yang belum pernah kucium, tetapi aku menyukai aromanya.  Jari-jarinya mengusap kepalaku.  Aku memperhatikan jari-jari tangannya, kulitnya putih halus dan bentuknya lentik.  Aku melihat ada benda bulat berkilau di salah satu jarinya.  Apa itu ya? Sesuatu yang bisa dimakan kah?  Mataku fokus pada benda tersebut.  Bulatan metal berwarna putih berkilat dengan sebuah benda bulat yang mirip kolang-kaling merah ditengahnya.  Ketika jari-jarinya bergerak, benda itu juga bergerak menyilaukan, itu pantulan sinar matahari.  Aku mengamatinya dan haaaap!  Kutangkap benda itu dengan moncong kecilku.  “Mama” memekik kaget dan kemudian tertawa.  Dia mengangkat tubuhku dan mendekatkan wajahku ke wajahnya.

“Ah, kamu lapar ya? “  Aku memandang ke matanya.  Mama memiliki mata yang indah sekali.  Bola matanya berwarna cokelat tua, bukan hitam sebagaimana yang biasa kulihat pada mata majikan lamaku.  Apa ya warna biji mataku?  Mama bangkit dan membawaku ke pantry. Sambil tetap mendekapku di dadanya, dia berjalan ke lemari es dan mengeluarkan karton berwarna biru.

Itu susu!  Aku melihat Nathan meminumnya semalam dan sempat memberiku sedikit, rasanya gurih sekali, lain dengan susu ibuku.  Yup! berilah aku susu sedikiiiiit saja, mama! Aku rindu merasakan kegurihannya.  Seolah mendengar pintaku, mama mengambil tempat makanku dan menuangkan susu itu kedalamnya.  Dia meletakkan mangkuk itu di lantai dan menurunkan aku.   Sedapnya minum susu dingin di siang yang terik ini !

Sore hari, mereka membawaku ke kebun belakang rumah.  Disini banyak sekali tanaman cantik kulihat.  Beberapa memiliki bunga yang cantik namun membuatku bersin-bersin.  Phine mangangkatku tinggi-tinggi dan memutar badanku, wiiiiiiiir …!! Aku merasakan desingan agin ditelingaku, perutku terasa mulas karena geli yang aneh.  Sejenak kemudian dia mendekatkan moncongku kepipinya.  Aku diam saja mengendus kulitnya, tidak seharum pipi mama sih, mengapa ya?

“Learn how to kiss …. Moully! “  dia berkali-kali berkata demikian.  Aku jelas tidak mengerti apa itu, jangankan bahasa ini, bahasa Indonesiapun aku masih amat minim perbendaharaan katanya!   Dia mengecup moncongku dan kembali mengatakan kata-kata itu, apa ya artinya? Dia mulai keletihan, beberapa bulir peluh meleleh dipipinya, aku menjilatinya karena penasaran saja.  “Nah, gitu dong ….. you know how to kiss thought?“  Oh-ho, jadi kiss itu sama dengan menjilat ya?  Kalau itu, aku sih sudah bisa sejak lahir, hanya tidak paham namanya.

Dari mereka aku belajar hal baru – mengekspresikan rasa sayang dengan lidahku – menjilat.  Itu namanya Kiss !

Hari Pertamaku

Malam hari aku sampai di rumah baru. Semuanya terasa asing. Tidak tercium bau yang biasanya. Aku merasa asing di tempat ini. Tidak terlihat ada ibu dan saudara-saudaraku. Tempat apa ini? Apa aku bisa bertemu dengan ibuku lagi? Aku ingin tidur disampingnya. Aku merasa sangat ketakutan. Bahkan buntutku pun merasakan hal yang sama, ia tidak mau lepas menempel pada perutku. Aku ingin pulang.

Sesampainya di dalam rumah, Nyonya majikan meletakkanku di atas lantai. Aku langsung berlari masuk ke kolong sofa terdekat, secepat kaki pendekku bisa membawa tubuhku yang gemuk ini. Aku rasa ini tempat yang mana. Dari dalam kolong sofa itulah aku mulai menjelajahi seisi ruangan itu dengan mataku. Semuanya tak kukenal.

Lama aku berdiam di kolong sofa sampai seorang anak laki-laki mendekat dan melongok ke bawah sofa tempatku bersembunyi. Dia berusaha menarikku keluar. Akupun semakin berusaha memasukkan diriku sendiri lebih dalam agar aku tidak tertarik oleh tangannya. Anak itu tidak memaksaku keluar, ia hanya duduk sambil memanggil-manggilku agar mau keluar. Sebenarnya aku mulai tidak nyaman dengan posisiku saat itu. Seluruh tubuhku terasa mengkerut ke satu titik, perutku. Rasanya sesak. Tapi aku tidak berani merubah posisiku. Takut kalau anak itu bisa meraihku keluar. Satu menit, dua menit,…lima menit, dan dia mulai meninggalkanku.

Kulihat langkah-langkah kaki lain di sekitar sofa. Mereka berbicara satu sama lain. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi ada beberapa kata yang kutangkap. Mereka menyebutkan kata malam, tidur, pagi, dan main. Tak beberapa lama kemudian ruangan mulai sepi dan lampu-lampu dimatikan. Tinggallah aku sendiri di ruangan itu, eh, lebih tepatnya di kolong sofa. Sepi. Akupun mulai mengantuk. Sungguh aku rindu dengan ibuku. Mengendus pipi dan kupingnya. Paling tidak aku ingin minum susu sebelum tertidur. Perlahan, rasa takutku mulai hilang. Mungkin besok aku akan pulang dan semuanya akan kembali seperti semula. Akupun mulai tertidur.

Aku sedang bergelut dengan handuk bekas alas tidurku di halaman samping. Kukibaskan ke kiri dan kanan. Handuk itu mambelit tubuhku, makin kencang dan semakin kencang. Lalu tubuhku mulai terangkat. Loh? Handuk bisa mengangkatku? Seketika itu pula aku membuka mataku dan sadar bahwa bukan handuk yang membelit dan mengangkat tubuhku, melainkan tangan anak laki-laki yang semalam. Wah, ternyata tidurku terlalu nyenyak sampai aku tidak sadar kalau sudah keluar dari kolong sofa. Anak laki-laki itu mengangkatku mendekat ke wajahnya. Ia menempelkan hidungku ke hidungnya dan menggosok-gosokkannya. Hidungnya lebih empuk dari hidungku namun terasa kering.

“Hiiii…lucunyaaa! Kamu kecil tapi bulet!” ucapnya.

Okey, aku memang bulat. Itulah yang membuat orang selalu lebih tertarik kepadaku dibandingkan dengan saudaraku yang lain. Anak itu mendekatkan wajahnya lagi pada wajahku. Agak menyeramkan, wajahnya jadi jauh lebih besar bagiku.

“Hhhmmm….mulutya bau pete!” celetuknya di depan wajahku seperti menikmatinya.

Bau pete? Apa itu ya? Apa aku pernah menciumnya? Rasanya makanan yang terakhir kali masuk ke dalam mulutku hanya biskuit sisa anak majikan lamaku. Apa itu namanya pete? Tapi mereka menyebutnya biskuit. Apa itu nama lainnya?

“Nathan, bawa kesini dan beri dia susu ini ….“  Aku mendengar suara majikan perempuan yang kemarin malam membopongku dalam mobil.  Oh, jadi nama majikan kecilku ini Nathan?  Well, nama yang cukup bagus kedengarannya, dibandingkan nama-nama lain yang sebelumnya pernah kudengar, Paijo – Tukirin – Narno dan Sariyo , mereka adalah petugas yang mengurus aku dan saudara-saudaraku di rumahku yang lama – breeder house.

Nathan, anak lelaki kecil ini, membawaku ke ruangan sebelah, sebuah ruangan yang luas dan terang oleh sinar matahari.  Ada bau sedap yang tertangkap oleh hidungku, aku tidak tau pasti apa itu tetapi aku menyukainya.  Setidaknya bau itu menstimulasi isi perutku dan membuatku tiba-tiba merasa lapar sekali. Dia meletakkan aku di dekat meja, dimana sebuah mangkuk berwarna merah baru saja diletakkan oleh majikan perempuanku. Aku menjulurkan kepalaku mendekati mangkuk itu, ada bau sedap dari sana – dari benda cair berwarna putih, aahh …. ini kan susu ?  Tetapi mengapa tidak menetes dari puting ibuku?  Kucoba satu jilatan. Enak dan hangat, persis suhu susu dari dada ibuku, tetapi yang ini lebih gurih.  Itulah sarapan pertamaku, semangkuk susu dan selembar roti tawar beraroma mentega yang empuk.  Aku melihat mereka semua secara komplit.  Majikan perempuanku, wanita yang cantik dan riang.  Majikan kecil perempuanku – Phine, kakak Nathan, gadis berambut sebahu yang selalu tertawa dengan suara mengejutkanku dan Nathan sendiri. Mereka hanya bertiga? Lalu, kemana pria yang kemarin dibalik kemudi ya?  Mengapa dia tidak ada di ruangan ini?  Keluarga baruku ini terlihat akrab.  Mereka sarapan sambil ramai bercakap, lalu satu demi satu meninggalkan ruangan.  Akhirnya hanya tinggal aku dan majikan perempuanku yang tinggal.  Begitulah suasana pagi di rumah baruku.

Awal Perjalananku

Pengalaman pertama kali aku keluar dari wilayah tempat aku dilahirkan adalah saat Tuan majikan menjemputku. Sore itu aku sedang bermain dengan dua saudaraku ketika majikan lamaku mengangkatku dan memberikanku kepada Tuan majikan. Aku yang dipilih karena saat aku kecil dulu tubuhku paling bulat diantara dua saudaraku yang lain. Dengan terbungkus kain, Tuan majikan membawaku masuk ke dalam ruangan dengan banyak jendela dan berisi beberapa sofa. Aku diserahkan kepada Nyonya majikan yang duduk di salah satu sofa itu. Dia memeluk dan memangkuku menghadap ke sebuah jendela besar – di mana aku bisa melihat pintu rumahku dan majikanku melambaikan tangan kepada Tuan majikan. Makin lama makin jauh, kecil, dan menghilang seiring dengan bergeraknya ruangan tersebut.

Aku ketakutan, sangat ketakutan. Tubuhku gemetaran dan tegang di balik selimut yang membungkus tubuh bulatku. Nyonya majikan menatapku dan mengelus-elus  kepalaku.

“Kenapa kamu tegang gini, sih?” ucap Nyonya majikan sambil mengangkatku ke arah wajahnya.

“Takut ya naik mobil? Gak apa-pa sayang. Bobok aja yah..!?” ucapnya lagi.

Oh, ruangan ini namanya mobil. Mobil ini terus bergerak semakin cepat. Dari balik kaca aku melihat banyak hal yang belum pernah kulihat selama ini. Ada banyak orang dan juga rumah. Pohon-pohonnya juga tidak sama dengan pohon yang biasa dikencingi oleh salah satu saudaraku. Sepertinya perjalanan masih jauh. Tanpa sadar aku mulai mengantuk dalam kehangatan selimut ini. Aku pun tertidur dengan pulas.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.